CAPM The Capital Asset Pricing Model:Theory and Evidence (FF 2002)

30 05 2009

Daya tarik CAPM adalah dengan memberikan prediksi dan intuisi yang powerful yang mampu mengukur resiko dalam kaitannya dengan expected return. Namun banyak hal dalam CAPM yang sulit dinyatakan dalam dunia nyata karena CAPM mengasumsikan hanya satu sumber systematic risk: Market Risk.

Systematic risk:

(1) Tidak dapat didiversifikasikan

(2) Dapat di-hedge

(3) Dalam keseimbangan hal ini dikompensasi dengan risk premium

Assumption CAPM

  1. Bertujuan untuk memaksimilasi economic utility.
  2. rational risk-averse.(Ekspektasi homogen)
  3. price takers, mereka tidak mampu mempengaruhi harga.
  4. Lend and borrow unlimited under the risk free rate of interest.
  5. Diperdagangkan tanpa transaction atau taxation costs.
  6. Transaksi dengan pihak sekuritas keseluruhannya dapat dibagi menjadi small parcel.
  7. Diasumsikan semua informasi tersedia bagi semua investor dan dalam waktu yang sama. (Perfect Information)

Fisher and Black (1972) è Asumsi yang digunakan lebih realistis

Tujuan dari pengujian teori CAPM

Expected returns pada semua assets adalah linear dan berhubungan dengan beta mereka, dan tidak ada lagi variable yang memiliki marginal explanatory power.

Beta premium positive, yang berarti bahwa expected return pada melampaui expected return pada asset dimana returns tidak berkorelasi dengan market return.

Dalam model Sharpe-Lintner, asset tidak berkorelasi dengan market yang memiliki expected returns equal with risk-free interest rate, dan beta premium adalah expected market return dikurangi the risk-free rate

Empirical Research

  • Uji sebelumnya menyatakan bahwa CAPM memiliki positive relationship, tapi terlalu flat (Lintner 1965, BJS 72 etc).
  • Untuk meningkatkan presisi dari estimasi beta, researcher bekerja dengan portfolios daripada individu aset.
  • Example: Fama-MacBeth (1973)

Hubungan antara rata-rata ekses return dengan beta  bersifat linier dan resiko nonsistematik tidak menjelaskan (mempengaruhi) besarnya rata-rata ekses return. Mereka memperluas model penelitian dengan memasukkan :

a. Nilai kuadrat beta (guna mentest linieritas hubungan ekses return dengan beta).

b. Nilai estimasi standar deviasi residual (guna mentest adanya pengaruh resiko nonsistematik).

Rp – rf = a0 + a1  βp + a2 (βp )2 + ζi,t (non-linearity)

Rp – rf = a0 + a1  βp + a2 (βp )2 + a3 RVp  + ζi,t (idiosyncratic risk)

Recent Test

Basu (1977)è E/P

Banz (1981) è Size effect

CAPM Failed???

Behavioralist è Overreaction , Extrapolate past performance (see Debond Thaler 1987)

Modify assumption?? è ICAPMè different objectives of investor (see Merton 1973)

Three Faktor model FF (1993)

Advertisements




Jurnal Stock return & Beta, firm size : E/P, CF/P, book to market, sales growth : evidence from singapore and malaysia

30 05 2009

Review:

Dengan menggunakan data dari bursa saham singapura dan malaysia, menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stock return dengan beta, size, E/P, CF/P, book to market dan sales growth. Terdapat anomali dalam emerging market. Hal ini menunjukkan conditional relationship antara beta dan stock returns dari kedua negara. Terdapat hubungan positif yang signifikan dengan positif market excees return. Juga terdapat hubungan negatif antara beta dan stock return selama periode tersebut dengan negative market excess return. Untuk singapura, dokumentasi menunjukkan terdapat hubungan negatif antara return dan sales growth. Untuk Malaysia, terdapat hubungan positif antara return dan E/P ratio. Hubungan ini hanya signifikan hanya di bulan non-januari.

Jurnal sebelumnya yang membahas juga mengenai hal ini adalah :

  • Fama and French (1992) gagal mendokumentasikan hubungan antara beta dan return dalam US stock market.
  • Pettengill et al. (1995) menemukan hubungan positif antara beta dan stock returns selama periode penelitian dan hubungan positif antara beta dan stock return ketika market sedang bullish serta hubungan negatif antara ketika market sedang bearish.
  • Jafee et al.(1989) menjelaskan hubungan antara stock returns dan size dan E/P dalam january efect. Size effect hanya signifikan dalam bulan januari.
  • Wong and Lye (1990) menunjukkan bahwa dalam singapore, stock return berhubungan dalam firm size and E/P.
  • Chui and Wei (1998) menemukan bahwa Hong Kong, Korea, Malaysia, and Thailand stock returns berhubungan positif dengan B/M.

Data yang digunakan :

  • 82 firms di Singapore sample and 163 sample firms di Malaysian sample.
  • Study period à 9 years (1988-1996)
  • Variable for each firm : SIZE, B/M, E/P, and CF/P. As of June.
  • SIZE : log the market value of equity as at the end of June of year t.
  • Book value of equity (B) diambil di balance sheet.
  • Earnings (E) = earnings before interest and taxes
  • Cash Flow = income before extraordinary items plus depreciation
  • Sales growth dihitung berdasarkan weighted average SG for the past 3 years where the most recent year receives a weight of 3, penultimate year 2, and third year 1.
  • RETURN à monthly holding period return
  • EXRETà RETURN-risk free rate

Kesimpulan

  • Terdapat Positive relationship antara beta and stock returns dalam bulish market dengan positive market excess returns dan negative relationship antara beta dengan stock returns dalam bearish market dengan negative market excess returns. Negative relationship untuk Singapore antara size dan stock returns serta antara weighted average annual Sales Growth dan stock returns.
  • Positive relationship antara beta dan stock returns selama bulan-bulan dengan positive market excess returns (bulish) dan negative relationships antara beta and stock returns selama bulan-bulan dengan negative market excess return (bearish). Negative size effect dan a positive E/P effect untuk Malaysia juga didokumentasikan. The size effect neither subsumes nor is subsumed by the P/E effect.
  • Hubungan dalam point 1 and 2 hanya significant terjadi dalam bulan non January.




BETA Beta and returns revisited Evidence from the German stock market (Elsas et al 2002)

30 05 2009

Jurnal ini secara empiris memberikan paparan bahwa dalam bursa saham jerman terdapat hubungan yang signifikan antara beta dan return. Jurnal ini ada karena kegagalan studi sebelumnya yang sejenis yang gagal mengidentifikasi adanya kemungkinan hubungan karena rata-rata market risk premium dalam periode sample yang mendekati nol. Studi terakhir yang berhubungan dengan studi pada jurnal ini adalah Fama & french (1992) yang mendokumentasikan bahwa no cross-sectional relationship diantara beta risk dan return salah satunya yakni firm size dan book to market ratio yang disertakan dan variable explanatory. Jurnal ini dibangun dari hasil kerja PSM dengan objektif menunjukkan:

1. Riset dengan simulasi monte carlo dan secara jelas mendemontrasikan bahwa hasil dari Fama & French adalah berbeda ketika conditional relation antara beta dan return terlibat atau tidak dalam penelitian. Hasil simulasi menunjukkan bahwa size dan power sebagai modifikasi prosedur test PSM.

2. Analisis menujukkan hubungan antara beta dan return secara empiris menggunakan data dari german stock market. Simulasi Monte Carlo memberikan nilai parameter yakni menentukan 1. Number of assets 2. Variance dan covariance matrix return

3. Constant φ yang menunjukkan return vector Hasil menunjukkan : bahwa tradisional test seringkali gagal untuk menolak joint null hypothesis dari no relation antara beta dan return dan zero market premium hanya ketika kedua hipotesis tersebut adalah salah.

Analisis empiris : Dari simulasi menunjukkan bahwa pendekatan conditional test cocok digunakan untuk uncover relation antara beta dan return untuk menghindari joint hipotesis problem yang diasosiasikan dengan prosedur test tradisional. * Adanya hubungan antara beta dan return selalu positif ketika market risk premium positif dan negatif untuk kebalikannya. Adanya replikasi dari jurnal fama Mc beth bahwa CAPM mampu memprediksi conditional relation antara beta dan return seperti point 2 dan bersifat konsisten. Serta adanya size effect yang bersifat konsisten.





Euforia Pesta DemoCarzy Indonesia

1 04 2009

Kampanye partai pemilu 2009

Menjelang pemilu yang tinggal hitungan hari lagi, pastinya anda semua dibuat bosan oleh iklan-iklan partai politik di hampir semua media elektronik tak terkecuali televisi sebagai media entertainment masyarakat pada umumnya. Entah iklan yang bertema mengajak mencontreng partai tersebut sampai pada propaganda keberhasilan pemerintah dan kritik terhadap kebijakan pemerintahan selama ini. Apakah anda pernah membayangkan berapa besar yang dikeluarkan partai-partai tersebut untuk biaya iklan, anda pasti terkejut bahwa nilainya tidak main-main. Luar biasa besar dana yang dikeluarkan partai tersebut dan pastinya dibutuhkan effort untuk mendatangkan kembali uang yang telah dikeluarkan.
Data dibawah ini saya review kembali dari tulisan Mr.Christovita Wiloto dari Asian Institute of Management serta berbagai sumber di media cetak yang kurang lebih memiliki data yang tidak jauh berbeda.

Kontrak iklan untuk penayangan pada umumnya

tiap 10 menit muncul..
di prime time…
di national wide tv…
seharian…
seminggu…
sebulan…

Biaya yang dikeluarkan adalah
Karena sedang musim kampanye biasanya stasiun televisi tersebut mengenakan diskon @ 20jutaan aja periklan muncul…
dikali 10 x stasiun tv…
dikali 20 x seharian…
dikali 7 x semingguan…
dikali 4 x sebulanan…
dikali 6 x sesemesteran…

sekitar rp 672.000.000.000…
alias enam ratus tujuh puluh dua miliar rupiah…
perpartai hanya untuk tayang iklan…
belum kaos…
belum spanduk…
belum dangdut…
belum radio…
belum de el el alias dan lain lainnya…
yang dan lain-lainnya itu ditaksir sekitar rp 100.000.000.000…
alias seratus milyar….
total perpartai rp 772.000.000.000…
alias tujuh ratus tujuh puluh dua miliar rupiah…

kalau 10 partai gede aja…
pastinya sekitar rp 7.720.000.000.000…
alias tujuh trilililililiun….
tujuh ratus dua puluh mililililaaaaar rupiah…

dengan publikasi dana awal yang terbilang jauh dari nominal tersebut
semoga bukan uang yang digunakan bukan uang haram.

Seandainya Rp 7.720.000.000.000…
dibagi 5 tahun masa jabatan….
Rp 7.720.000.000.000…
dibagi 5 tahun….
dibagi 365 hari….

perhari harus break even point sebesar ….
Rp 4.230.136.986.3…perhari.


alias perhari harus balik modal empat milililiar dua ratus tiga puluh juta seratus tiga puluh enam ribu sembilan ratus delapan puluh enam tiga sen rupiah…

harus balik modal…
dari mana uang itu berasal….
Uang suap, uang kolusi, uang pembagian hasil proyek ilegal,  penyetujuan UU bermasalah, uang studi banding, serta tunjangan-tunjangan lainnya yang tidak relevan dengan kerja seorang anggota dewan.

padahal bulan depan 12.000 pegawai…
alias dua belas ribu pegawai harus di PHK…
harus kehilangan pekerjaan…

kalau setiap pegawai punya keluarga….
1 istri dan 2 anak…
maka total yang menderita…
12.000 pegawai
di x 4 orang…
total ORANG MISKIN BARU di Indonesia…
mencapai… 48.000 orang…

kalau saja Iklan Kampanye rp 7.720.000.000.000 alias tujuh trilililililiun itu dijadikan pabrik-pabrik seperti di China….
wow semua bisa kerja…
semua bisa makan…
semua bisa sekolah…
semua sehat….
negara kuat…
rakyat sejahtera…
Indonesia makmur….

Benar adanya,. bahwa terjadi pergeseran moral dan stigma bahwa pekerjaan sebagai anggota dewan adalah pekerjaan tempat mencari nafkah keluarganya serta usaha memperkaya diri dan bukan lagi sebagai pihak yang mau mendengarkan aspirasi rakyat.
Bung hatta pernah berujar: “Anggota dewan bukan jabatan untuk mencari uang,. kalau ingin mencari uang dan memperkaya diri adalah dengan menjadi pengusaha.”
Modal mereka cuman janji dan sudah terlalu banyak perbuatan hina yang mereka lakukan selama mereka menjabat. Jangan pilih politisi busuk dan caleg karbitan apalagi orang yang pernah jadi anggota dewan tapi kerjaannya cuma tidur !!!





Saatnya Berinvestasi di Kala Bearish

9 10 2008

Bulan ini IHSG kita begitu redup bahkan sempat mencapai titik terendah dalam 5 tahun terakhir, begitu pula dengan pasar financial baik regional maupun global yang sampai saat ini masih terus menunjukkan trend bearish karena setiap harinya sentimen negatif global yang terus mendera dan diperparah dengan angka-angka indicator ekonomi makro dalam negeri yang tidak memihak membuat pasar saham bak “neraka” bagi investor kecil dan berperilaku trader. Setiap harinya mereka harus selalu focus pada monitor running trade yang seolah tak pernah lepas dari angka merahnya. Namun di tengah situasi pasar yang bergejolak, apabila kita mencermati lebih teliti mengenai situasi saat ini sebenarnya merupakan sebuah kesempatan besar bagi anda yang ingin mencoba “nikmatnya berinvestasi” tentu saja dengan time horizon yang panjang. Bagi yang berminat untuk memulainya di saham, momen seperti ini yang tepat bagi investor untuk mengkoleksi saham emiten-emiten yang secara fundamental baik sesuai dengan paparan financial statement caturwulan II. Berdasarkan data historical selama 10 tahun terakhir, saham-saham (IHSG) mencapai titik terendahnya sampai pada akhir agustus dan kemudian akan mengalami rebound pada awal September. Bearish yang berkepanjangan di bursa saham diperkirakan telah mencapai titik klimaks. Titik balik penguatan pun berpeluang terjadi paling lambat bulan agustus, sampai pada tulisan ini dibuat saham sudah mulai menunjukkan titik reboundnya walaupun masih terkesan tipis. Pasar sudah mulai bosan dengan sentimen-sentimen negatif yang terus berputar di permasalahan kenaikan harga minyak dunia dan inflasi global sebagai secondary effectnya. Sehingga makin lama pasar kita menjadi resisten dan biasanya ditunjukkan dengan anomali moving index dibandingkan pasar regional maupun global. Selain factor diatas, pada bulan-bulan menjelang akhir tahun pemerintah mulai mengintensifkan belanja negaranya untuk pembangunan infrastruktur yang diharapkan dalam menstimulus perekonomian demi mengejar target pertumbuhan ekonomi tahun 2008 pada level 6,3% dapat mendongkrak pasar untuk bergerak positif dan menciptakan peningkatan volume transaksi. Mulai memanasnya ranah politik namun masih dalam taraf yang kondusif yang ditunjukkan dengan dimulainya masa kampanye partai-partai dan bakal calon RI-1, bagi pasar biasanya membawa harapan dan semangat baru untuk kondisi yang lebih baik yang setidaknya sampai akhir bulan mayoritas emiten akan berada dalam posisi beli. Akumulasilah saham-saham energi alternatif, minning, infrastruktur (telekomunikasi dan semen), Perbankan (wait & see) serta pertanian masih sangat menguntungkan bagi investor dengan horizon jangka panjang. Pilihlah emiten kita yang pada umumnya berkinerja sangat baik untuk masing-masing industri tersebut karena membeli saham itu berdasarkan prospek perusahaan dikaitkan dengan prospek industri dan makroekonomi, sehingga disaat ada potensi rugi disitulah nantinya prospek menguntungkan muncul.

Investor juga sebaiknya memperhatikan factor risiko, jangan hanya terus mengejar return yang tinggi, karena berinvestasi pada dasarnya disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan dari investor itu sendiri. Apabila investor hanya ingin bermain safe dalam jangka pendek, maka reksadana pasar uang dan obligasi ritel bias menjadi pilihan terlebih lagi muncul produk baru dari pemerintah yakni sukuk. Selain itu deposito yang ditawarkan dari bank-bank umum masih cukup menjanjikan untuk dijadikan alternatif bermain safe dalam jangka pendek karena biasanya beberapa bank sudah mulai menyesuaikan kenaikan inflasi dengan menaikkan tingkat bunga simpanannya. So keep investing

Tips berinvestasi pada pasar bearish :

1. Perhatikan tujuan dan kebutuhan berinvestasi anda pada mulanya.

2. Tetapkan Time horizon

3. Investigasi produk-produk investasi yang ingin anda koleksi sebelum berinvestasi (pelajari & pahami baik dari sisi fundamental perusahaan beserta industrinya).

4. Diversifikasi portfolio anda agar dapat saling mengkompensasi risiko kerugian pada masing-masing instrument investasi.

5. Cermati tren pasar global dengan data-data historical yang memadai.

6. Sisakan waktu lebih banyak dalam berinvestasi bagi anda yang berniat short-term investment.

7. Perhatikan rekomendasi dari berbagai analis di berbagai perusahaan sekuritas.

8. Berinvestasilah dengan rasionalitas dan bukan pada kata hati.





Menanti Krisis Ekonomi jilid II

8 10 2008

Crash !! Ambruknya saham-saham di bursa kita begitu mudahnya terjadi akhir-akhir ini. Efek domino dari epicentrum keruntuhan bank-bank investasi Amerika yang sampai saat ini masih dalam tahap restrukturisasi injeksi dana yang diberikan pemerintah AS melalui skema Bailoutnya memunculkan kepanikan pasar yang luar biasa tidak terbendung di belahan bumi manapun, tak terkecuali negara gemah ripah loh jinawi yang baru saja dibanjiri likuiditas dalam seminggu menjelang lebaran karena sektor konsumsi yang meledak. Rentannya bursa kita terhadap berbagai sentimen negatif yang kalau kita teliti lebih dalam memang sudah menunjukkan trend sejak 5 bulan terakhir dan kalau bisa saya bilang menunjukkan kegagalan kapitalisme Amerika. Betapa tidak, disaat negara tersebut belum pulih dihantam peristiwa terorisme WTC ditambah dengan nafsu serakahnya menguasai Afghanistan dan Irak dilanjutkan oleh ketamakan penduduknya yang ingin selalu bergelimang harta (kepemilikan lebih dari 2 rumah dengan cara kredit yang diperjualbelikan), memaksa negara tersebut untuk mati secara perlahan. Sudah ada bukti yang jelas, korporasi raksasa yang menguasai Wall Street semisal Merrill Lynch (yang risetnya banyak menjadi benchmark termasuk saya dalam analisis saham), Bear Sterns, Lehman brothers, AIG, yang kemudian berlanjut mengindikasi pada kerugian yang lebih besar yang menjangkiti Goldman Sachs Group Inc & Morgan Stanley menunjukkan rapuhnya sistem investasi kapitalis yang dibangun Amerika yang banyak diadopsi bursa-bursa investasi termasuk Indonesia. Kalau kita melihat korporasi raksasa yang dimiliki negeri ini ternyata sudah mulai bemunculan satu persatu yang menunjukkan kondisi pesakitan walaupun terlihat kasat mata. Semisal, Bakrie & Brothers yang secara berani mengejar ekspansi berbagai bisnis dengan menggadaikan saham-saham perusahaan baik dalam jumlah besar maupun kecil dan terus dipindahtangankan dengan instrumen-instrumen derivatif yang kita sadari betul bahwa yang digunakan adalah hot money dari hedge fund asing padahal belajar dari krisis 1997 menunjukkan betapa berbahayanya hot money yang sangat rentan flight ke negara lain. Apalagi adanya intervensi Pemerintah Amerika yang secara obral menerbitkan surat hutang kepada korporasi-korporasi yang pesakitan dengan menjanjikan likuiditas 700 milliar dollar memaksa “investor serakah” untuk mencari kepastian investasi yang likuid walaupun yieldnya kecil. Belajarlah dari krisis ekonomi 1997 dan rush reksadana tahun 2005 yang menunjukkan investor kita menjadi kekanak-kanakan apabila muncul sedikit saja ketidaknyaman dalam pasar. Ingatlah bahwa kapitalisme itu begitu menjerat investor yang pas-pasan namun menjadi tamak untuk terus menguasai harta yang sebenarnya tidak layak dimiliki. Intermezzo saja, baru-baru ini ada pengusaha sari roti di Surabaya yang membunuh anak dan istrinya dan kemudian bunuh diri gara-gara tradingnya yang terus merugi selama sebulan terakhir. Kalau sudah begini, kita lihat tim “cerdas cermat” perekonomian dengan coach SBY-JK bisa berbuat apa, karena pasar sudah menunjukkan ketidakpercayaan terhadap skema kebijakan yang lagi-lagi Cuma diwacanakan SBY-JK.





Bodohnya The Fed di tangan Greenspan

8 10 2008

Kalau ada tokoh paling kontroversial dalam sejarah krisis ekonomi AS, salah satunya mungkin adalah Alan Greenspan. Waktu masih menjabat, Greenspan yang menjabat sebagai pimpinan Federal Reserve selama hampir dua dekade (Agustus 1987-31 Januari 2006) bisa dikatakan adalah salah satu pimpinan bank sentral paling kuat dan disegani di AS, bahkan di dunia.
Ia menerima perlakuan dan sorotan bak selebritas, melebihi bintang-bintang musik rock ternama. Ia juga menjadi acuan semua pengelola bank sentral (central bankers) di seluruh dunia. Banyak julukan diberikan kepadanya oleh media massa dan kalangan bankir. Mulai dari the Giant, Maestro, ”symbol of American Economic Preeminence”, ”orang yang mampu membawa ekonomi keluar dari serangkaian bencana dan malapetaka”, ”tokoh yang mampu membawa perekonomian AS ke dalam salah satu booming ekonomi terpanjang dalam sejarah”, ”tokoh yang mampu menjinakkan gejolak saham dalam peristiwa crash pasar saham (Black Monday) tahun 1987”. Dan masih banyak lagi.
Tetapi, seiring resesi dan krisis finansial yang kini mulai menggulung perekonomian AS, nama Greenspan juga berada di tengah pusaran caci maki. Kebijakan Fed di bawah Greenspan dituding berperan besar dalam membawa keambrukan ekonomi AS sekarang ini. Melalui kebijakan moneter longgar dan suku bunga rendah, Greenspan dituding telah membangun ”rumah kartu” dan mewariskan bom waktu yang kini perlahan terurai dan menunggu meledak dalam skala penuh.
Kebijakan suku bunga rendah yang dimulai sejak tahun 2002, saat Greenspan secara agresif mulai menurunkan suku bunga, telah memicu terjadinya real estate bubble (booming sektor perumahan diikuti inflasi harga perumahan secara tidak wajar), yang mencapai puncaknya tahun 2005-2006.
Greenspan dalam pengakuan waktu itu mengatakan, kebijakan (menciptakan bubble di sektor perumahan) itu disengaja dengan tujuan untuk menggantikan bubble saham industri dot.com yang sudah berakhir. Alasan dia, itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan perekonomian AS dari resesi akibat kolapsnya industri dot.com. Kemampuan manuver untuk menyelamatkan ekonomi AS dari satu krisis akibat suatu bubble dengan cara menciptakan bubble baru itu membuat ia dijuluki ”The Bubble Man”.
Greenspan menjadi sosok penuh kontroversi lewat kontradiksi tindakan dan ucapannya yang mengesankan ia tak mau dipersalahkan atas segala kemelut yang dihadapi perekonomian AS sekarang ini. Terkait tudingan bahwa ia telah merampok masyarakat dan memperkaya kaum berpunya lewat dukungannya terhadap kebijakan pajak regresif yang ditempuh Bush, misalnya. Greenspan mengklaim dia justru menentang kebijakan tersebut.
Padahal, faktanya, dalam testimoni di depan Komite Anggaran Senat 2001, menurut analis Stephen Lendman dalam sebuah artikel di Global Research, Greenspan memang mendukung penuh kebijakan ekonomi Bush yang bertumpu pada paket kebijakan pemotongan pajak yang sangat bias pada usaha besar dan kelompok kaya dengan dalih untuk merangsang ekonomi. Waktu itu Greenspan terang-terangan mengatakan, pemangkasan pajak diperlukan untuk mencegah meluasnya keterpurukan ekonomi.
Greenspan juga mengadvokasikan diakhirinya UU anti-trust, regulasi dan aturan mengenai pelayanan sosial, agar tak ada apa pun lagi yang bisa mengganggu keserakahan bisnis dan perburuan profit oleh para pelaku pasar uang. Maka, faham kebijakan ekonominya pun diplesetkan dari Greenspanomics menjadi Greedomics (ekonomi yang digerakkan oleh keserakahan).
Ia juga mengatakan, tak bertanggung jawab atas terjadinya bubble pasar saham tahun 2000. Dia mengaku tidak melihat indikasi ke arah itu sebelumnya. Padahal, bubble itu tak akan terjadi tanpa ada kebijakan menggelontorkan likuiditas dalam skala masif seperti yang dilakukannya.
Tak akurat
Berbagai kebijakan yang ditempuh Greenspan menunjukkan ia sebagai pimpinan Bank Sentral berulang kali mengabaikan atau tidak akurat dalam membaca gejala/potensi bahaya atau ketidakberesan yang muncul saat itu. Padahal, kebijakannya menjadi acuan semua pelaku ekonomi, bukan hanya di AS, tetapi di seluruh dunia. Salah satunya, saat ia memprediksikan cerahnya prospek industri berbasis teknologi informasi.
Sepekan kemudian, indeks Nasdaq untuk saham-saham teknologi mengalami crash (anjlok dramatis) dari 5.048 menjadi 1.114 pada 9 Oktober 2002 atau terpangkas 78 persen. Indeks S&P 500 untuk 500 saham unggulan bernasib sama, terjerembab 49 persen. Para investor pun babak belur. Hari itu dikenal sebagai Selasa Kelam (Black Tuesday) oleh kalangan pasar modal. Dan apa yang dilakukan Greenspan? Tak jera, ia malah sibuk mengorkestrasi bubble baru dengan apalagi kalau bukan kembali menggelontorkan likuiditas murah bak tsunami ke Wall Street dan para investor besar, kali ini untuk sektor perumahan kelas dua (sub-prime). Dampak katastropik meletusnya bubble itulah yang kini kita saksikan di AS.
Bagi mereka yang lama mengenal Greenspan, semua sepak terjang dan reputasi Greenspan itu ternyata bukan hal yang mengagetkan. Mungkin orang tidak tahu, Greenspan yang mendapat gelar PhD dari Columbia University (padahal ia tak pernah menyelesaikan disertasinya) itu ternyata tak bisa dikatakan sukses mengelola bisnisnya sendiri.
Salah seorang pesaing usahanya, Pierre Renfret, mengatakan bahwa perusahaan konsultan Greenspan selalu membuat rekor prediksi paling tidak akurat atau jauh meleset, dan akhirnya bangkrut dan harus ditutup. Artinya, sebagai wirausahawan ia gagal. Anehnya, ia banyak dipercaya untuk menduduki berbagai jabatan penting yang terkait dengan penyusunan prediksi ekonomi di pemerintahan, bahkan akhirnya jadi pimpinan Fed untuk beberapa periode lagi.
Namun, semua cacian yang dihadapinya sekarang itu tampaknya tak mengusik Greenspan. Di usia 81 tahun sekarang ini, ia tetap bisa menikmati pensiun dengan tenang. Buku memoarnya, The Age of Turbulence, laku 1,9 juta kopi lebih dan dari penjualan buku itu ia mengantongi royalti tak kurang dari 8,5 juta dollar AS (hanya kalah dari buku Bill Clinton yang 10 juta dollar AS).
Ia juga mendirikan perusahaan konsultan sendiri (Greenspan Associates LLC) dan hampir semua lembaga investasi atau bank besar berebut merekrutnya karena koneksi ekstensif yang ia miliki. Undangan berbicara tak pernah sepi dan kantongnya pun semakin tebal. Honor ratusan ribu dollar AS yang diterimanya setiap kali tampil sekarang ini, menurut Lendman, belum seberapa dibandingkan dengan triliunan dollar AS uang yang ia bantu salurkan ke kaum kaya (rich) dan superkaya (super rich). Istilah Lendman, mereka saling menjaga di antara sesama mereka.