Random walk, capital market efficiency and predicting stock returns for Hong kong Exchanges and Clearing Limited

30 05 2009

Abstraksi : Untuk mempelajari bahwa capital market efficiency karena hasilnya menunjukkan bahwa time series dapat diprediksi .

Metodologi : efisien market hipotesis dalam weak form

Kegunaan paper ini adalah untuk mengklarifikasi eksistensi dari karakteristik time series daily stock prices dari securities marketed di hong kong.

Isu penting adalah analisis empirical dari time series untuk menentukan jika return dari asset yang beresiko adalah serially independent.

Results : OLS models untuk hong kong time series data

Conclusions :

Hasilnya mengindikasikan bahwa weak form of the efficient markets hypothesis masih dalam pertanyaan kapan harus membuat keputusan yang berkaitan dengan investing dalam stock market securities.

Advertisements




Random walk, capital market efficiency and predicting stock returns for Hong kong Exchanges and Clearing Limited

30 05 2009

Abstraksi : Untuk mempelajari bahwa capital market efficiency karena hasilnya menunjukkan bahwa time series dapat diprediksi .

Metodologi : efisien market hipotesis dalam weak form

Kegunaan paper ini adalah untuk mengklarifikasi eksistensi dari karakteristik time series daily stock prices dari securities marketed di hong kong.

Isu penting adalah analisis empirical dari time series untuk menentukan jika return dari asset yang beresiko adalah serially independent.

Results : OLS models untuk hong kong time series data

Conclusions :

Hasilnya mengindikasikan bahwa weak form of the efficient markets hypothesis masih dalam pertanyaan kapan harus membuat keputusan yang berkaitan dengan investing dalam stock market securities.





January effect

30 05 2009

Review Jurnal:

Rate of return yang tinggi secara tidak normal dalam small cap stock return continu untuk diobservasi selama bulan januari. Januri effect dalam small cap stock return adalah secara konsisten menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingan waktu lain dan tidak menunjukkan bahwa hasil tersebut telah dipengaruhi oleh penerimaan dalam tax reform act (1986). Penemuan ini membawa perspektif baru pada hipotesis tax losses sharing dan menyarankan bahwa penjelasan perilaku adalah relevan pada january effect. Dan januari effect berlanjut sampai sekarang dan merupakan tantangan pada efficiency market hypothesis.

Tahapan metodologi :

  1. Value weighted return
  2. Equal weighted return
  3. Fama French Factor
  4. Portfolio return comparison
  5. Post tax reform act results

Kesimpulan :

January effect nyata terjadi dan secara berkelanjutan secara anomali dalam stock market return. Karena banyak institusi yang mempertahankan periode pelaporan pada januari-desember  meskipun periode pajak baru november – oktober. Akan tetapi window dressing telah berkontribusi pada small cap january effect selama periode 1987-2004.





Jurnal “Testing Market Efficiency for Different Market Capitalization Funds” Hossein Varamini & Svetlana Kalash

30 05 2009

Review

Studi ini bertujuan melakukan test penggunaan sharpe rasio untuk menjelaskan efficient market hypothesis untuk tiap kapitalisasi pasar dan gaya investasi pada reksadana. Hasil dari studi dari periode 1994-1997 dengan menjadi 2 periode 1994-1999 dan 2000-2007 mengindikasikan bahwa small cap funds memberikan highest risk adjusted return untuk masing-masing periode mengingat pertumbuhan funds mengalami penurunan return. Selain itu studi ini juga akhirnya memaparkan bahwa pasar reksadana tidak selalu efisien, dimana ada kemungkinan para investor atau manajer investasi dapat memperoleh excess return pada risk adjusted basis (return supernormal).

Paper ini primarily concerned dengan memilih reksadana berbasis market cap atau tujuan investasi yang akan dicapai.

Data yang digunakan:

  • Reksadana dibagi menjadi tiga kategori yakni market cap (Large, medium, dan small), dengan market cap ditentukan dengan market value saham beredar dan dihitung dengan mengalikan haga per lembarnya dengan jumlah saham beredar.
  • Morningstar membedakan lebih dari aggressive growth funds atau blend keduanya (kombinasi growth dan income investing style).

Secara historis, small cap funds cenderung untuk menghasilkan annual return daripada large cap funds ketika return dari mid cap jatuh pada suatu periode. Namun secara realitas, hal ini tidak selalu sesuai kasus diatas karena high risk diasosiasikan dengan small cap stock. Selama pasar bullish, small cap secara normal akan menjadi “pemenang”. Masih, hal ini lebih sulit untuk small companies untuk membiayai proyyek dan hal ini lebih mudah menyebabkan bangkrut. Sebagai hasilnya stock mereka akan lebih volatile, ketika pasar menjadi bearish maka small cap adalah “losser”

Metodologi dan Data

  • Sharpe ratio

Kritik terbesar dari rasio ini adalah bahwa rasio ini hanya mengukur berdasarkan historical returns ketika hal ini secara jelas menunjukkan bahwa past performance tidak meng-garansi future results.

  • M & M

Perbedaan utama rasio ini dengan sharpe ratio adalah bahwa M&M mengukur kalkulasi performance of porfolio dalam traditional unit pada pengukuran porfolio, memudahkan dalam perbandingan return of portfolio dengan overall market index.

  • Data yang digunakan berasal dari database morningstar dengan secara random diklasifikasikan Large, Medium, small berdasarkan market cap serta dibedakan berdasarkan growth, blend and value. Serta data yang diperoleh dari S&P 500.

Dengan menggunakan model ANOVA mengasumsikan bahwa standar deviasi populasi adalah sama.

Kesimpulan:

Bahwa pasar tidak selalu efisien sehingga ada kemungkinan investor atau manajer investasi memperoleh return yang lebih besar dari expected return. Small caps value funds memberikan highest risk-adjusted return untuk seluruh periode, dimana growth funds memberikan lower return. Oleh karena itu, memilih funds dari kategori yang memiliki sharpe ratio dan M square measure yang paling tinggi, yakni small dan medium value dan blend reksadana, seharusynya memperoleh earning higher return lebih tinggi dibandingkan rata-rata market.





Jurnal “Arbitrage Pricing Theory and Utility Stock Returns” by Dorothy H. Bower, Richard S. Bower, and Dennis E. Logue”

30 05 2009

Jurnal ini menyajikan beberapa pembuktian baru bahwa APT memberikan perkiraan expected return yang berbeda dan lebih baik daripada CAPM, khususnya dalam kasus utility stock returns. Hasil dari return portfolio bulanan untuk 1971-1979 menyimpulkan bahwa regulator seharusnya tidak mengadopsi pendekatan single-factor risk dari CAPM sebagai ukuran utama dari risiko, tetapi memberikan porsi yang lebih besar terhadap APT, yang multiple factornya memberikan indikasi yang lebih baik dari risiko asset dan perkiraan yang lebih baik dari expected return.

APT lebih baik dari CAPM:

  1. APT dapat menjelaskan bagian variasi return yang lebih besar diantara sekuritas yang digunakan dalam proses estimasi daripada CAPM
  2. APT lebih baik daripada CAPM dalam forecasting return pada sekuritas di luar proses estimasi

Metodologi: regresi sederhana

Kesimpulan:

APT benar-benar lebih baik daripada CAPM dalam menjelaskan dan memperkirakan variasi return secara kondisional melalui waktu dan across assets.





APT Jurnal “The Arbitrage Pricing Theory: Is it Testable?” Jay Shanken

30 05 2009

Jurnal ini memberikan pandangan bahwa Arbitrage Pricing Theory (APT) pada dasarnya lebih mungkin untuk pembuktian empiris daripada Capital Asset Pricing Model (CAPM). Formulasi yang biasa dari penerapan APT yang dapat diuji ditunjukkan sebagai sesuatu yang tidak cukup, karena itu menghalangi perbedaan return yang sangat diharapkan yang mana dijelaskan oleh teori tersebut. Keseimbangan kompetitif ekstensi saat ini dari APT secara prinsip dapat diuji. Dalam rangka penerapan suatu pengujian, observasi dari return pada true market portfolio tampaknya diperlukan.

Investigasi empiris dari APT untuk menguji:

Jika serangkaian return aset memenuhi K-factor model, kemudian vektor return yang diharapkan sama dengan kombinasi linear dari sebuah unit vector dan factor loading vectors.

Metode factor analytic

Kesimpulan:

Secara umum diterima bahwa CAPM tidak secara benar dapat diuji dalam pengertian yang sempurna. Analisis persuasif dari Roll yang beragumen bahwa CAPM tidak dapat diuji kecuali jika market portfolio dari seluruh aset digunakan dalam empirical test. APT dari Ross telah diajukan sebagai alternatif dari CAPM yang dapat diuji. Investigasi empiris di atas menarik karena memunculkan penangkapan spirit dari teori tersebut, dan memungkinkan untuk pengujian statistical melalui metode factor analytic. Kegagalan formulasi empiris dari APT untuk mendiskriminasikan perwakilan faktor alternatif pada basis dari beberapa pertimbangan merupakan kelemahan fundamentalnya.





CAPM The Capital Asset Pricing Model:Theory and Evidence (FF 2002)

30 05 2009

Daya tarik CAPM adalah dengan memberikan prediksi dan intuisi yang powerful yang mampu mengukur resiko dalam kaitannya dengan expected return. Namun banyak hal dalam CAPM yang sulit dinyatakan dalam dunia nyata karena CAPM mengasumsikan hanya satu sumber systematic risk: Market Risk.

Systematic risk:

(1) Tidak dapat didiversifikasikan

(2) Dapat di-hedge

(3) Dalam keseimbangan hal ini dikompensasi dengan risk premium

Assumption CAPM

  1. Bertujuan untuk memaksimilasi economic utility.
  2. rational risk-averse.(Ekspektasi homogen)
  3. price takers, mereka tidak mampu mempengaruhi harga.
  4. Lend and borrow unlimited under the risk free rate of interest.
  5. Diperdagangkan tanpa transaction atau taxation costs.
  6. Transaksi dengan pihak sekuritas keseluruhannya dapat dibagi menjadi small parcel.
  7. Diasumsikan semua informasi tersedia bagi semua investor dan dalam waktu yang sama. (Perfect Information)

Fisher and Black (1972) è Asumsi yang digunakan lebih realistis

Tujuan dari pengujian teori CAPM

Expected returns pada semua assets adalah linear dan berhubungan dengan beta mereka, dan tidak ada lagi variable yang memiliki marginal explanatory power.

Beta premium positive, yang berarti bahwa expected return pada melampaui expected return pada asset dimana returns tidak berkorelasi dengan market return.

Dalam model Sharpe-Lintner, asset tidak berkorelasi dengan market yang memiliki expected returns equal with risk-free interest rate, dan beta premium adalah expected market return dikurangi the risk-free rate

Empirical Research

  • Uji sebelumnya menyatakan bahwa CAPM memiliki positive relationship, tapi terlalu flat (Lintner 1965, BJS 72 etc).
  • Untuk meningkatkan presisi dari estimasi beta, researcher bekerja dengan portfolios daripada individu aset.
  • Example: Fama-MacBeth (1973)

Hubungan antara rata-rata ekses return dengan beta  bersifat linier dan resiko nonsistematik tidak menjelaskan (mempengaruhi) besarnya rata-rata ekses return. Mereka memperluas model penelitian dengan memasukkan :

a. Nilai kuadrat beta (guna mentest linieritas hubungan ekses return dengan beta).

b. Nilai estimasi standar deviasi residual (guna mentest adanya pengaruh resiko nonsistematik).

Rp – rf = a0 + a1  βp + a2 (βp )2 + ζi,t (non-linearity)

Rp – rf = a0 + a1  βp + a2 (βp )2 + a3 RVp  + ζi,t (idiosyncratic risk)

Recent Test

Basu (1977)è E/P

Banz (1981) è Size effect

CAPM Failed???

Behavioralist è Overreaction , Extrapolate past performance (see Debond Thaler 1987)

Modify assumption?? è ICAPMè different objectives of investor (see Merton 1973)

Three Faktor model FF (1993)