Bluffy Bullish

3 06 2009

Bull Vs Bear

Setelah pasar saham bergerak rally dalam tempo satu bulan terakhir dengan kencangnya, ternyata dapat menjadi bumerang apabila kita tidak waspada. Gelagat koreksi besar di pasar saham dapat diketahui lebih dini, terlebih dengan keluarnya data MSCI (Morgan Stanley Capital Index) pada emerging market yang menunjukkan penurunan yang cukup tajam hingga 1,4% dalam sehari.  Yang tepat ditunjukkan pada pukul 11 malam tanggal 2 Juni 2009 pada posisi 798,02. Indeks ini menunjukkan bahwa harga saham di 22 negara berkembang sudah mencapai titik termahal dan mengalami overbought sejak Desember 2007 dengan rata-rata PER sebesar 15,2 kali. Walaupun modal asing dalam waktu dekat masih akan terus memasuki pasar, namun hal ini  semata-mata dikarenakan mereka mengincar pertumbuhan ekonomi yang masih mungkin terjadi di negara-negara berkembang ketimbang mengincar pertumbuhan ekonomi maju yang mustahil terjadi dalam waktu dekat. Terlebih pasar di Asia yang relatif lebih likuid daripada US maupun Eropa. Namun berapapun besaran pertumbuhan ekonomi yang terjadi di emerging market pasti dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi di negara maju. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya pertumbuhan ekonomi sudah mencapai titik dasarnya dan tidak mudah untuk segera memulihkan krisis ekonomi global yang terjadi sekarang mengingat kompleksitas dan episentrum yang terjadi adalah negara dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Terlebih hampir di semua negara menetapkan kebijakan suku bunga rendah yang sebenarnya tidak banyak menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan masih berkutat pada inflasi rendah. Sebulan terakhir ini, The Fed walaupun telah menaikkan yield obligasi sebesar 0,5% namun dengan kebijakan terus mencetak dolar AS malah akan berdampak buruk pada penurunan nilai mata uang tersebut dan tentunya menekan kinerja emiten karena beban utang dalam dolar AS yang akan meningkat.

Kembali pada bursa, dapat dikatakan dengan masuknya hot money ke emerging market dalam jumlah yang cukup signifikan dengan nilai tidak kurang mencapai US$ 12 milliar dalam sebulan terakhir yang jelas-jelas melampaui capital inflow pada saat bursa asia mencapai puncaknya yakni pada oktober 2007. Pengalaman menunjukkan, pada saat dana asing mengalir sederas itu pad februari 2006, Indeks MSCI akhirnya malah merosot 8,4% empat bulan kemudian. Dan mencermati pasar saham kita yang terus membumbung tinggi sangat rawan terhadap koreksi yang juga lebih dalam. Semakin cepat tinggi terbangnya akan semakin cepat pula jatuhnya. Hot money ini memang terus menjadi biang keladi apabila nantinya terjadi koreksi terlebih apabila mereka telah menemukan zona yang lebih nyaman untuk berinvestasi apabila ada salah satu negara di eropa ataupun US telah menunjukkan kenaikan inflasi.

Oleh karena itu jangan mudah terpengaruh dengan herding dan ingatlah sifat pada heuristic pada market bahwa sebenarnya kenaikan indeks kita tidak sesuai dengan kondisi sektor riil yang terus cenderung melambat. Pasar sudah sangat tak rasional bila dikaitkan dengan kinerja emiten yang sebagian besar cenderung stabil atau bahkan menurun untuk beberapa sektor tertentu. Hanya sedikit sekali emiten yang melakukan ekspansi namun Indeks rally dengan kencangnya. Hal ini terbilang sangat tidak wajar. Waspadalah terhadap Bluffy Bullish ini karena sebenarnya tekanan bearish masih cukup kuat adanya.





Menanti Krisis Ekonomi jilid II

8 10 2008

Crash !! Ambruknya saham-saham di bursa kita begitu mudahnya terjadi akhir-akhir ini. Efek domino dari epicentrum keruntuhan bank-bank investasi Amerika yang sampai saat ini masih dalam tahap restrukturisasi injeksi dana yang diberikan pemerintah AS melalui skema Bailoutnya memunculkan kepanikan pasar yang luar biasa tidak terbendung di belahan bumi manapun, tak terkecuali negara gemah ripah loh jinawi yang baru saja dibanjiri likuiditas dalam seminggu menjelang lebaran karena sektor konsumsi yang meledak. Rentannya bursa kita terhadap berbagai sentimen negatif yang kalau kita teliti lebih dalam memang sudah menunjukkan trend sejak 5 bulan terakhir dan kalau bisa saya bilang menunjukkan kegagalan kapitalisme Amerika. Betapa tidak, disaat negara tersebut belum pulih dihantam peristiwa terorisme WTC ditambah dengan nafsu serakahnya menguasai Afghanistan dan Irak dilanjutkan oleh ketamakan penduduknya yang ingin selalu bergelimang harta (kepemilikan lebih dari 2 rumah dengan cara kredit yang diperjualbelikan), memaksa negara tersebut untuk mati secara perlahan. Sudah ada bukti yang jelas, korporasi raksasa yang menguasai Wall Street semisal Merrill Lynch (yang risetnya banyak menjadi benchmark termasuk saya dalam analisis saham), Bear Sterns, Lehman brothers, AIG, yang kemudian berlanjut mengindikasi pada kerugian yang lebih besar yang menjangkiti Goldman Sachs Group Inc & Morgan Stanley menunjukkan rapuhnya sistem investasi kapitalis yang dibangun Amerika yang banyak diadopsi bursa-bursa investasi termasuk Indonesia. Kalau kita melihat korporasi raksasa yang dimiliki negeri ini ternyata sudah mulai bemunculan satu persatu yang menunjukkan kondisi pesakitan walaupun terlihat kasat mata. Semisal, Bakrie & Brothers yang secara berani mengejar ekspansi berbagai bisnis dengan menggadaikan saham-saham perusahaan baik dalam jumlah besar maupun kecil dan terus dipindahtangankan dengan instrumen-instrumen derivatif yang kita sadari betul bahwa yang digunakan adalah hot money dari hedge fund asing padahal belajar dari krisis 1997 menunjukkan betapa berbahayanya hot money yang sangat rentan flight ke negara lain. Apalagi adanya intervensi Pemerintah Amerika yang secara obral menerbitkan surat hutang kepada korporasi-korporasi yang pesakitan dengan menjanjikan likuiditas 700 milliar dollar memaksa “investor serakah” untuk mencari kepastian investasi yang likuid walaupun yieldnya kecil. Belajarlah dari krisis ekonomi 1997 dan rush reksadana tahun 2005 yang menunjukkan investor kita menjadi kekanak-kanakan apabila muncul sedikit saja ketidaknyaman dalam pasar. Ingatlah bahwa kapitalisme itu begitu menjerat investor yang pas-pasan namun menjadi tamak untuk terus menguasai harta yang sebenarnya tidak layak dimiliki. Intermezzo saja, baru-baru ini ada pengusaha sari roti di Surabaya yang membunuh anak dan istrinya dan kemudian bunuh diri gara-gara tradingnya yang terus merugi selama sebulan terakhir. Kalau sudah begini, kita lihat tim “cerdas cermat” perekonomian dengan coach SBY-JK bisa berbuat apa, karena pasar sudah menunjukkan ketidakpercayaan terhadap skema kebijakan yang lagi-lagi Cuma diwacanakan SBY-JK.





IHSG Kita..

17 04 2008

Kalau temen-temen semua mengikuti perkembangan IHSG akhir-akhir ini (sampai dengan 14 April 2008), pastinya kecewa dengan kinerjanya, mengingat volatilitas yang cukup besar dan menunjukkan downtrend serta indikasi yang cenderung hampir selalu menembus level support dari perkiraan banyak analis. Walaupun secara fundamental perusahaan-perusahaan yang listing tersebut memiliki kinerja yang cukup baik namun apa daya bursa kita masih belum cukup besar influencenya bagi perekonomian global dan cenderung paradoksial dengan bursa-bursa dunia untuk beberapa saat. Namun pemerintah masih menilai pasar masih dalam keadaan yang stabil (Sri Mulyani & Boediono berpendapat dalam investor daily), apakah pernyataan menunjukkan bahwa sebenarnya pemerintahan sekarang kurang memiliki “tajinya” sehingga terkesan pasar kurang merespon hal-hal positif yang disampaikan petinggi-petinggi kita dan justru merespon secara berlebihan dengan hal-hal negatif yang ditunjukkan perekonomian kita (seperti halnya data inflasi bulan maret yang diluar ekspektasi para pelaku pasar yang 0,95% dibandingkan bulan sebelumnya 0,15%). Pasar lebih mengikuti perilaku psikologis untuk terus melakukan aksi profit taking dalam jangka pendek karena imbas pasar global yang kurang sehat (masih mending dapat untung daripada tidak sama sekali) mungkin begitu pikir mereka. Namun menurut saya keuntungan yang didapat oleh mereka yang saya sebut dengan “spekulan” tidak sebesar yang mereka harapkan. Pada awalnya mereka berharap lebih banyak profit dari ulah mereka karena kinerja saham-saham blue chips dan saham-saham tingkat dua kita yang terus menanjak 2 tahun terakhir. Tentunya mereka berharap “kecipratan” dengan mengkilapnya bursa kita. Tapi apa mau dikata malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, reverse-affect bursa kita akhirnya terjadi juga dan technical rebound sangat minim terjadi 1 bulan terakhir sehingga cost-benefit yang semula mereka perkirakan masih mumpuni untuk terus memburu keuntungan tapi malah bursa kita terus anjlok. Banyak pihak yang berpendapat bahwa bursa kita masih rentan terjangkiti “penyakit”, kalau dow jones dan Nasdaq anjlok kemudian Nikkei dan Hangseng juga turun maka otomatis IHSG juga jebol (Bapak bersin Anak kena Flu). Tapi apa benar hal itu selalu terjadi? Jawabannya ternyata tidak. IHSG dalam 1 bulan terakhir lebih rentan dengan sentimen-sentimen negatif dalam perekonomian kita dan ulah dari para spekulan. Selain itu dampak SWF asing yang dengan sangat leluasa menanamkan dananya dalam jangka pendek, menurut saya juga cukup signifikan pengaruhnya. Mereka dengan seenaknya masuk dan keluar pasar karena juga kurang ketatnya regulasi pemerintah tentang capital flow asing yang dalam hal ini terwakili oleh membanjirnya pasar terhadap dana SWF. Institusi-institusi tersebut menyebutnya sebagai perilaku konsolidasi dengan masih wait&see kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia, padahal sudah jelas bahwa fundamental perusahaan-perusahaan kita masih lebih baik walaupun dengan adanya gejolak kenaikan sebagian besar komoditas dunia dan subprime mortgage yang sebenarnya adalah buah ketololan The Fed sendiri. Sebenarnya apa yang dicari institusi ini? Apakah sekali lagi mereka tidak tahu yang namanya investasi itu adalah menekankan pada pertumbuhan asset jangka panjang kalau mereka benar-benar investor yang bertindak etis. Tanpa mengkambinghitamkan siapapun, menurut saya sudah saatnya semua pihak yang berkepentingan dalam pasar, bertindah fair, etis, dan sadar bahwa perilaku mereka mencerminkan kepribadian mereka (K.Bartens). Akan sangat malu apabila saya yang masih “muda” ini berteriak bahwa bukalah mata dan hati kalian untuk menjaga bursa kita untuk lebih dingin menghadapi perilaku-perilaku spekulasi (apa bedanya donk investasi dengan judi) yang menyebabkan IHSG kita sulit diprediksi. Sampai kapan ini, kita hanya bisa menunggu sampai pihak-pihak tersebut sadar akan perilaku mereka dan pemerintah sekali lagi memiliki kepekaan terhadap pasar yang seharusnya mereka sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga stabiltas pasar. Saya saja sebagai salah satu pemegang reksadana (walaupun masih retail) sangat tidak puas dengan kinerja bursa kita namun tentu saja power saya tidak cukup besar seperti halnya george soros yang mengobrak-abrik perekonomian dunia tahun 1998, warren buffet yang menyayat perekonomian global tahun 2001, sedikit menunjukkan concern tentang kinerja bursa sekarang ini. Bagaimana dengan teman-teman semua, apakah memiliki pendapat yang berbeda?