Sedikit ide untuk UKM

22 04 2008

Ada sebuah ide menarik yang hendak saya sampaikan melalui tulisan ini, mungkin kita semua sudah memahami bahwa UKM adalah unit bisnis yang tidak banyak terimbas oleh perubahan ekonomi baik lokal, nasional bahkan global seekstrim apapun. Berdasarkan data dari BI menunjukkan bahwa UKM di negara Indonesia terdapat hanya kurang dari 5% yang mengalami pengaruh yang cukup berarti terhadap krisis ekonomi tahun 1998 (seperti pengurangan usaha sampai lebih dari 50%, melay-off karyawannya sampai lebih dari 40% atau bahkan gulung tikar) dan terbukti UKM sebagai salah satu pilar penting perekonomian kita tetap konsisten menjaga kelangsungan usahanya dengan pemberdayaan masyarakat kecil dan menengah. Namun lagi-lagi dan menurut saya sudah menjaga penyakit kronis yang berkelanjutan bahwa salah satu kendala UKM yang sebenarnya sudah banyak diketahui oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap UKM yakni masalah pendanaan / perolehan modal kerja. Salah satu solusi yang cukup masuk akal yakni dengan menciptakan sebuah pasar modal yang dalam hal ini adalah bursa yang didalamnya terlisting UKM-UKM kita. Bila di Indonesia BEI merupakan salah satu institusi yang menyediakan capital yang besar yang berasal dari transaksi saham setiap harinya serta listing korporasi-korporasi kita yang digunakan untuk memperoleh capital untuk digunakan sebagai operasional atau ekspansi usaha maupun refinancing yang salah satunya berupa Go Public maupun IPO. Tidak ada salahnya apabila pemerintah juga menyediakan sebuah institusi yang bergerak di pasar modal yang bertujuan menyediakan capital untuk UKM di Indonesia. Bila kita melihat sekarang ini, hanya terdapat 7 perusahaan yang memiliki tipikal seperti UKM yang terlisting di BEI. Namun, jangan salah sangka dulu perusahaan ini sedikitnya sudah memiliki jaringan yang cukup luas di pulau jawa (baik dari segi produksi, distribusi, dll). Go Public tidak hanya dapat digunakan UKM sebagai media untuk mendapatkan capital sesuai dengan kebutuhan usaha namun juga menjadi sarana tata kelola UKM yang transparan dan lebih akuntabilitas serta menyampaikan edukasi kepada masyarakat dan institusi-institusi perbankan maupun investor bahwa UKM mampu menunjukkan kinerja yang menjunjung tinggi profesionalitas dan juga risiko default yang seminimal mungkin. Go Public juga tidak semata-mata masalah dana, tapi juga membentuk image usaha yang baik karena pihak luar dapat mengakses informasi perusahaan (UKM) yang seluas-luasnya. Contoh saja Astra, bila dilihat lebih mendalam sebenarnya perusahaan ini sudah memiliki capital dan cash yang sudah sangat besar sehingga tidak diperlukan lagi yang namanya IPO dan sejak ditinggal oleh pendirinya perusahaan itu sudah sangat mandiri dan publik sudah sangat percaya dengan korporasi ini dengan telah menblue-chipkan sahamnya. Namun Go Public perusahaan ini telah mampu menciptakan image korporasi yang jauh lebih baik dibandingkan sebelum Go Public dan masih berupa perusahaan tertutup. Sebenarnya implementasi ide ini sudah diawali setapak dengan adanya listing papan utama di BEI yang telah membantu meng-go public┬Čkan perusahaan yang relatif kecil sebagai bentuk optimisme bahwa perusahaan-perusahaan tersebut paling tidak dapat menjaga kelangsungan usahanya. Namun infiltrasi UKM di pasar modal masih sangat minim dan terhalang banyak kendala. Sudah saatnay pemerintah melapangkan jalan bagi UKM-UKM kita untuk lebih berkembang dengan memperoleh keleluasaan di pasar modal dengan penyediaan bursa yang lebih spesifik dan nyata-nyata mudah dipahami oleh pelaku-pelaku UKM. Persyaratan untuk Go Public dibuat lebih longgar dan sederhana namun tetap mempertahankan aspek transparansi dan akuntabilitas serta image UKM yang lebih profesional. UU yang nantinya diciptakan untuk keperluan UKM tersebut pun lebih khusus karena akan tidak relevan apabila menggunakan UU pasar modal no 8 tahun 1995.