Tentang IPO Adaro

9 07 2008

Permasalahan internal yang membelit PT Adaro Energy tak menyurutkan langkah perusahaan pertambangan dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di Indonesia ini untuk mereguk dana segar dari masyarakat dengan melaksanakan IPO dengan target perolehan dana sebesar 12,25 trilliun (terbesar sepanjang sejarah IPO di Indonesia). Perusahaan yang digawangi oleh trio pengusahaan kakap Indonesia yakni Edwin Soeryajaya (Mantan Dirut Astra), Gribaldi Tohir, dan Sandiaga S Uno ini menjadi sahan yang paling diincar para investor tahun ini, namun PT Danatama Makmur (selaku penjamin emisi yang ditunjuk pihak Adaro) memang hanya mengalokasikan 222,78 juta saham perdana Adaro kepada publik. Jumlah itu setara dengan dua persen dari total saham Adaro yang akan dilepas kepada publik, yaitu sebanyak 11,139 miliar saham yang mengakibatkan antrian cukup panjang di Semanggi Expo dan Kawasan Niaga Sudirman, Jakarta. Tidak hanya investor yang andil dalam antrian tersebut namun juga para joki suruhan perusahaan-perusahaan sekuritas yang berusaha memanfaatkan situasi ini. Kalau menurut hemat saya, apa yang mereka lakukan itu memang cukup rasional mengingat potensi pertumbuhan asset dan nilai saham perusahaan adaro yang sangat menjanjikan di tengah pasar yang sedang bearish dan nilai pasar uang yang terus tertekan sebagai dampak kenaikan harga BBM dan Inflasi dunia. Seperti kita tahu pula bahwa hampir semua perusahaan pertambangan kita selalu menjadi primadona bagi investor dalam dan luar negeri. Namun apabila kita kelumit sedikit, kenapa institusi sekaligus regulator sekaliber BAPEPAM-LK sampai meloloskan ijin IPO Adaro mengingat perusahaan ini sampai sekarang masih diperkarakan oleh Beckett Pte Ltd mengenai proporsi kepemilikan saham yang masih belum jelas dan transparan. Sebenarnya ada apa di balik ini semua. Walaupun benar adanya yang disampaikan oleh salah satu petingga BAPEPAM-LK yang menyatakan bahwa sengketa hukum antara Beckett dan Adaro merupakan urusan pengadilan. Adapun Bapepam-LK lebih fokus kepada aspek transparansi dan keterbukaan, termasuk mengharuskan Adaro untuk memaparkan sengketa hukum yang dihadapinya kepada publik. Dari pemaparan tersebut, jelas bahwa risiko investasi menjadi terlihat. Setelah itu, keputusan diserahkan kepada investor, apakah akan membeli saham perdana Adaro atau tidak.
Pastinya BAPEPAM-LK juga menilai begitu besarnya potensi pasar Adaro yang menyebabkan mereka meloloskan ijin IPO agar IPO Adaro tidak kehilangan momentum dan diharapkan meningkatkan likuiditas pasar modal walaupun sesaat. Sebenarnya IPO Adaro ini tidak menjamin pasar akan bergerak rebound dan menunjukkan indikasi bullish. Pasar kita terlalu sensitif terhadap pengaruh kondisi bursa regional dan isu-isu global walaupun kadangkala pasar kita bergerak paradoks terhadap pergerakan pasar regional dan global, namun sudah cukup besarkah Adaro hingga memberikan kepastian bahwa pasar kita akan pulih dari trend bearish selama hampir lebih dari 5 bulan ini dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi kita sebesar 6,2% dan memberikan jaminan bahwa dengan mengkoleksi saham ini dipastikan return dalam jangka pendek dapat tercapai. Lagi-lagi pasar modal kita dipenuhi oleh spekulan kelas teri yang belum mengerti hakikat berinvestasi termasuk dari regulatornya sendiri.

Advertisements