Menanti Krisis Ekonomi jilid II

8 10 2008

Crash !! Ambruknya saham-saham di bursa kita begitu mudahnya terjadi akhir-akhir ini. Efek domino dari epicentrum keruntuhan bank-bank investasi Amerika yang sampai saat ini masih dalam tahap restrukturisasi injeksi dana yang diberikan pemerintah AS melalui skema Bailoutnya memunculkan kepanikan pasar yang luar biasa tidak terbendung di belahan bumi manapun, tak terkecuali negara gemah ripah loh jinawi yang baru saja dibanjiri likuiditas dalam seminggu menjelang lebaran karena sektor konsumsi yang meledak. Rentannya bursa kita terhadap berbagai sentimen negatif yang kalau kita teliti lebih dalam memang sudah menunjukkan trend sejak 5 bulan terakhir dan kalau bisa saya bilang menunjukkan kegagalan kapitalisme Amerika. Betapa tidak, disaat negara tersebut belum pulih dihantam peristiwa terorisme WTC ditambah dengan nafsu serakahnya menguasai Afghanistan dan Irak dilanjutkan oleh ketamakan penduduknya yang ingin selalu bergelimang harta (kepemilikan lebih dari 2 rumah dengan cara kredit yang diperjualbelikan), memaksa negara tersebut untuk mati secara perlahan. Sudah ada bukti yang jelas, korporasi raksasa yang menguasai Wall Street semisal Merrill Lynch (yang risetnya banyak menjadi benchmark termasuk saya dalam analisis saham), Bear Sterns, Lehman brothers, AIG, yang kemudian berlanjut mengindikasi pada kerugian yang lebih besar yang menjangkiti Goldman Sachs Group Inc & Morgan Stanley menunjukkan rapuhnya sistem investasi kapitalis yang dibangun Amerika yang banyak diadopsi bursa-bursa investasi termasuk Indonesia. Kalau kita melihat korporasi raksasa yang dimiliki negeri ini ternyata sudah mulai bemunculan satu persatu yang menunjukkan kondisi pesakitan walaupun terlihat kasat mata. Semisal, Bakrie & Brothers yang secara berani mengejar ekspansi berbagai bisnis dengan menggadaikan saham-saham perusahaan baik dalam jumlah besar maupun kecil dan terus dipindahtangankan dengan instrumen-instrumen derivatif yang kita sadari betul bahwa yang digunakan adalah hot money dari hedge fund asing padahal belajar dari krisis 1997 menunjukkan betapa berbahayanya hot money yang sangat rentan flight ke negara lain. Apalagi adanya intervensi Pemerintah Amerika yang secara obral menerbitkan surat hutang kepada korporasi-korporasi yang pesakitan dengan menjanjikan likuiditas 700 milliar dollar memaksa “investor serakah” untuk mencari kepastian investasi yang likuid walaupun yieldnya kecil. Belajarlah dari krisis ekonomi 1997 dan rush reksadana tahun 2005 yang menunjukkan investor kita menjadi kekanak-kanakan apabila muncul sedikit saja ketidaknyaman dalam pasar. Ingatlah bahwa kapitalisme itu begitu menjerat investor yang pas-pasan namun menjadi tamak untuk terus menguasai harta yang sebenarnya tidak layak dimiliki. Intermezzo saja, baru-baru ini ada pengusaha sari roti di Surabaya yang membunuh anak dan istrinya dan kemudian bunuh diri gara-gara tradingnya yang terus merugi selama sebulan terakhir. Kalau sudah begini, kita lihat tim “cerdas cermat” perekonomian dengan coach SBY-JK bisa berbuat apa, karena pasar sudah menunjukkan ketidakpercayaan terhadap skema kebijakan yang lagi-lagi Cuma diwacanakan SBY-JK.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: