Goresan Seorang Pemula

2 05 2008

Betapa beratnya menjadi pemerintah akhir-akhir ini, di tengah tekanan krisis ekonomi, pangan, dan energi global. Belum lagi permasalahan dalam negeri yang seolah tidak kunjung surut, seperti halnya masalah inflasi yang diluar perkiraan banyak pihak telah menembus 3.5 % sampai akhir bulan april, kebijakan konversi minyak yang belum sepenuhnya dapat dikatakan berhasil, wacana ekspor beras yang secara logika tidak dapat dibenarkan implementasinya, angka kemiskinan yang dikhawatirkan akan menembus 40 juta jiwa, serta sederet permasalahan lain yang secara multiplier akan terus bermunculan sebagai dampak dari policy pemerintah yang sebagian besar belum berpihak pada rakyat. Janji memang tinggal janji dan waktu memang tinggal kenangan, pemerintahan SBY – Kalla memang kira-kira tinggal 1 tahun lagi dan selama kurang lebih 4 tahun ini dirasa belum ada perubahan yang berarti (selain saudara perempuan saya yang akhirnya bekerja setelah masa tunggu sejak dipimpin megawati) dan tidak ada yang patut dibanggakan dari negara berpenduduk 220 juta jiwa ini, selain korupsi. Indeks korupsi negeri ini memang berangsur-angsur mulai menurun dan menunjukkan tingkat pengungkapan yang sudah mulai terbuka, namun pelaku-pelakunya seolah tak pernah jera dengan perilaku yang sudah mendarah daging tersebut. Setelah pejabat-pejabat eksekutif, yudikatif, dan sekarang legislatif mulai mengakui perilaku menyimpangnya, tidak sedikit orang-orang senayan yang terseret kasus korupsi dengan 1001 macam kasus. Bahkan kata-kata “pejabat” sudah mulai banyak diselewengkan dari mulai pejabat kelas atas sampai pejabat sekelas RT. Contoh saja tindakan tidak terpuji RT di salah satu kabupaten di Jawa Timur yang tega menimbun beras raskin untuk kemudian mejualnya kepada masyarakat miskin. Lain lagi dengan isu hangat mengenai rencana kenaikan harga BBM nasional sebagai dampak dari forward kenaikan harga minyak dunia berbagai jenis. Pemerintah memang bersikeras untuk tidak menaikkan harga BBM sampai akhir bulan juli, tapi apakah dapat dipertanggungjawabkan janji tersebut, mengingat sudah banyak janji yang ternodai kesuciannya. Rakyat sampai detik ini menyatakan perang terhadap rencana kenaikan harga BBM, lain halnya dengan pengusaha yang dari awal tahun 2008 menghendaki kenaikan dalam skala kecil namun berkelanjutan. Tapi pemerintah tidak mengijinkannya karena image dan kredibilitas SBY – Kalla dipertaruhkan mengingat besarnya kemungkinan keduanya akan kembali mencalonkan diri untuk duduk di kursi RI 1. Namun, kebijakan kenaikan harga BBM tetap dianggap sebagai tindakan yang rasional bagi pemerintah, mengingat kendalanya adalah ruang gerak yang ada dalam APBN sangat terbatas. Sebenarnya, serangkaian kebijakan pengurangan subsidi BBM yang diambil sebelum ini memberikan ruang fiskal yang cukup terbuka bagi pemerintah untuk membiayai kebijakan-kebijakan sosial dan pemberantasan kemiskinan. Tapi, tingginya harga minyak dunia belakangan itu membuat ruang fiskal itu kembali menurun. Menurut Ari A Perdana, “Berdasarkan sebuah perhitungan, kalau program konversi oktan premium jadi dilakukan, ruang fiskal yang dihasilkan masih lebih besar daripada yang diperlukan untuk menambah subsidi tunai sebesar Rp50 ribu bagi 19 juta keluarga miskin per bulan.” Tentunya langkah itu akan paradoksial dan tidak popular di mata masyarakat. Setali tiga uang dengan masalah pendidikan di Indonesia yang dipandang sebagai momok bagi stakeholder. Masalah tiada kunjung reda dari mulai perdebatan rendahnya alokasi APBN dalam bidang pendidikan, bongkar pasang sistem kurikulum pendidikan, sampai pada implementasi UAN yang tidak tepat sasaran dan terkesan buang-buang duit rakyat. Kalau kita mau peka dan telaah lebih dalam, sebenarnya dimana letak kontribusi dan keberadaan mahasiswa? Mahasiswa memang banyak kita temui di lingkungan kampus. Dari mulai mahasiswa “kupu-kupu”, “kura-kura”, sampai “kunang-kunang” semuanya beridentitaskan mahasiswa. Namun eksistensinya dipertanyakan dimata masyarakat. Mahasiswa memang pandai merangkai kata, handal dalam kemampuan akademik, dan keras dalam menyuarakan aspirasinya dinilai masih sangat kurang memberikan benefit bagi rakyat. Mungkinkah mahasiswa sekarang sudah berada dalam comfort zone masing-masing sehingga tidak sensitif lagi terhadap permasalahan bangsa khususnya pendidikan. Abirul Trison, mahasiswa FHUI angkatan 2007 ini misalnya berpendapat, “Walaupun saya banyak memperoleh informasi mengenai permasalahan bangsa akhir-akhir ini, namun saya rasa masih dalam taraf normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Pendapat tersebut mengingatkan saya pada salah satu pidato presiden belakangan ini yang kurang lebih mengemukakan hal yang sama untuk meredam kecemasan masyarakat terhadap ancaman krisis pangan di Indonesia. Lain halnya menurut, Muhammad Akhyar, mahasiswa Psikologi UI 2006, “Pemerintah masih setengah hati menyelesaikan permasalahan bangsa terlebih masalah pendidikan.”, ditanya lebih detilnya, Akhyar menambahkan, “Pendidikan di Indonesia seperti halnya baju yang setengah jadi tapi terus ditambal sulam, sistem kurikulum terus saja dipaksakan sedangkan UAN masih terus diberlakukan padahal sudah jelas-jelas dipersoalkan keberadaannya.” Sudah saatnya pemerintah berbenah untuk lebih jelas memberikan ketegasan akan dibawa kemana wajah pendidikan bangsa ini. Semuanya dapat bermula dari perguruan tinggi, khususnya peran mahasiswa sebagai agent of change. UI misalnya, visinya sebagai universitas riset tahun 2010 sepertinya sulit untuk terealisasi. Dapat kita lihat dari sisi mikro perilaku mahasiswa yang masih enggan melakukan penelitian dan riset dalam disiplin ilmunya masing-masing. Proposal ilmiah mahasiswa UI yang dari tahun ke tahun terus menerus seolah menancapkan keyakinan bahwa mahasiswa UI yang terkenal seantero bumi nusantara ini dengan aksi demo keberpihakannya pada masyarakat tidak terlalu mencintai kodratnya sendiri yakni melakukan riset dan penelitian. Banyak kasus di internal kampus sendiri, yakni, mahasiswa yang melakukan tindakan amoral, semisal plagiarisme. Menurut pengakuan salah satu mahasiswa FEUI yang enggan memberikan identitasnya menyebutkan bahwa, “Tiap kali gw bikin paper ga sedikit gw jiplak dari tulisan-tulisan di internet karena tmen gw juga banyak yang ngelakuin hal itu.” Walaupun terkesan mengeneralisasi dan menjustifikasi sebenarnya pernyataan diatas tidak dapat sepenuhnya diterima mengingat masih ada sejumlah kecil mahasiswa yang “benar-benar” mahasiswa. Mereka inilah yang bertanggungjawab dalam mengemukakan semua pendapatnya, menuliskan semua isi pikirannya, dan dalam memperjuangkan aspirasinya. Mahasiswa tidak ubahnya sebagai individu yang membentuk karakter bangsa di kemudian hari karena di tangan merekalah masa depan bangsa dipertaruhkan. Apabila dari sekarang mahasiswa tidak ubahnya sebagai sapi perah mereka sendiri, maka nantinya bangsa ini tidak akan pernah lepas dari belenggu sapi perah bangsa lain terlebih dari Negara tetangga sendiri. Kita tentu masih ingat bahwa dulu kita dipandang sebagai dewa pendidikan bagi kawasan ASEAN. Dunia pendidikan sangat terpandang mengingat “Founding Father” kita Ir.Soekarno adalah mahasiswa yang sangat idealis serta Soeharto yang terkenal sangat concern terhadap dunia pendidikan. Namun sekarang semuanya sudah berubah 180 derajat, Malaysia, Thailand, Singapuran dan bahkan Vietnam sudah mulai jauh meninggalkan kita. Mereka banyak belajar dari dunia pendidikan Negara-negara barat dan akan mustahil apabila mereka kembali belajar kepada ibu pertiwi ini yang setiap harinya disibukkan oleh permasalahan perut.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: