IHSG Kita..

17 04 2008

Kalau temen-temen semua mengikuti perkembangan IHSG akhir-akhir ini (sampai dengan 14 April 2008), pastinya kecewa dengan kinerjanya, mengingat volatilitas yang cukup besar dan menunjukkan downtrend serta indikasi yang cenderung hampir selalu menembus level support dari perkiraan banyak analis. Walaupun secara fundamental perusahaan-perusahaan yang listing tersebut memiliki kinerja yang cukup baik namun apa daya bursa kita masih belum cukup besar influencenya bagi perekonomian global dan cenderung paradoksial dengan bursa-bursa dunia untuk beberapa saat. Namun pemerintah masih menilai pasar masih dalam keadaan yang stabil (Sri Mulyani & Boediono berpendapat dalam investor daily), apakah pernyataan menunjukkan bahwa sebenarnya pemerintahan sekarang kurang memiliki “tajinya” sehingga terkesan pasar kurang merespon hal-hal positif yang disampaikan petinggi-petinggi kita dan justru merespon secara berlebihan dengan hal-hal negatif yang ditunjukkan perekonomian kita (seperti halnya data inflasi bulan maret yang diluar ekspektasi para pelaku pasar yang 0,95% dibandingkan bulan sebelumnya 0,15%). Pasar lebih mengikuti perilaku psikologis untuk terus melakukan aksi profit taking dalam jangka pendek karena imbas pasar global yang kurang sehat (masih mending dapat untung daripada tidak sama sekali) mungkin begitu pikir mereka. Namun menurut saya keuntungan yang didapat oleh mereka yang saya sebut dengan “spekulan” tidak sebesar yang mereka harapkan. Pada awalnya mereka berharap lebih banyak profit dari ulah mereka karena kinerja saham-saham blue chips dan saham-saham tingkat dua kita yang terus menanjak 2 tahun terakhir. Tentunya mereka berharap “kecipratan” dengan mengkilapnya bursa kita. Tapi apa mau dikata malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, reverse-affect bursa kita akhirnya terjadi juga dan technical rebound sangat minim terjadi 1 bulan terakhir sehingga cost-benefit yang semula mereka perkirakan masih mumpuni untuk terus memburu keuntungan tapi malah bursa kita terus anjlok. Banyak pihak yang berpendapat bahwa bursa kita masih rentan terjangkiti “penyakit”, kalau dow jones dan Nasdaq anjlok kemudian Nikkei dan Hangseng juga turun maka otomatis IHSG juga jebol (Bapak bersin Anak kena Flu). Tapi apa benar hal itu selalu terjadi? Jawabannya ternyata tidak. IHSG dalam 1 bulan terakhir lebih rentan dengan sentimen-sentimen negatif dalam perekonomian kita dan ulah dari para spekulan. Selain itu dampak SWF asing yang dengan sangat leluasa menanamkan dananya dalam jangka pendek, menurut saya juga cukup signifikan pengaruhnya. Mereka dengan seenaknya masuk dan keluar pasar karena juga kurang ketatnya regulasi pemerintah tentang capital flow asing yang dalam hal ini terwakili oleh membanjirnya pasar terhadap dana SWF. Institusi-institusi tersebut menyebutnya sebagai perilaku konsolidasi dengan masih wait&see kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia, padahal sudah jelas bahwa fundamental perusahaan-perusahaan kita masih lebih baik walaupun dengan adanya gejolak kenaikan sebagian besar komoditas dunia dan subprime mortgage yang sebenarnya adalah buah ketololan The Fed sendiri. Sebenarnya apa yang dicari institusi ini? Apakah sekali lagi mereka tidak tahu yang namanya investasi itu adalah menekankan pada pertumbuhan asset jangka panjang kalau mereka benar-benar investor yang bertindak etis. Tanpa mengkambinghitamkan siapapun, menurut saya sudah saatnya semua pihak yang berkepentingan dalam pasar, bertindah fair, etis, dan sadar bahwa perilaku mereka mencerminkan kepribadian mereka (K.Bartens). Akan sangat malu apabila saya yang masih “muda” ini berteriak bahwa bukalah mata dan hati kalian untuk menjaga bursa kita untuk lebih dingin menghadapi perilaku-perilaku spekulasi (apa bedanya donk investasi dengan judi) yang menyebabkan IHSG kita sulit diprediksi. Sampai kapan ini, kita hanya bisa menunggu sampai pihak-pihak tersebut sadar akan perilaku mereka dan pemerintah sekali lagi memiliki kepekaan terhadap pasar yang seharusnya mereka sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga stabiltas pasar. Saya saja sebagai salah satu pemegang reksadana (walaupun masih retail) sangat tidak puas dengan kinerja bursa kita namun tentu saja power saya tidak cukup besar seperti halnya george soros yang mengobrak-abrik perekonomian dunia tahun 1998, warren buffet yang menyayat perekonomian global tahun 2001, sedikit menunjukkan concern tentang kinerja bursa sekarang ini. Bagaimana dengan teman-teman semua, apakah memiliki pendapat yang berbeda?

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: