
Setelah pasar saham bergerak rally dalam tempo satu bulan terakhir dengan kencangnya, ternyata dapat menjadi bumerang apabila kita tidak waspada. Gelagat koreksi besar di pasar saham dapat diketahui lebih dini, terlebih dengan keluarnya data MSCI (Morgan Stanley Capital Index) pada emerging market yang menunjukkan penurunan yang cukup tajam hingga 1,4% dalam sehari. Yang tepat ditunjukkan pada pukul 11 malam tanggal 2 Juni 2009 pada posisi 798,02. Indeks ini menunjukkan bahwa harga saham di 22 negara berkembang sudah mencapai titik termahal dan mengalami overbought sejak Desember 2007 dengan rata-rata PER sebesar 15,2 kali. Walaupun modal asing dalam waktu dekat masih akan terus memasuki pasar, namun hal ini semata-mata dikarenakan mereka mengincar pertumbuhan ekonomi yang masih mungkin terjadi di negara-negara berkembang ketimbang mengincar pertumbuhan ekonomi maju yang mustahil terjadi dalam waktu dekat. Terlebih pasar di Asia yang relatif lebih likuid daripada US maupun Eropa. Namun berapapun besaran pertumbuhan ekonomi yang terjadi di emerging market pasti dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi di negara maju. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya pertumbuhan ekonomi sudah mencapai titik dasarnya dan tidak mudah untuk segera memulihkan krisis ekonomi global yang terjadi sekarang mengingat kompleksitas dan episentrum yang terjadi adalah negara dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Terlebih hampir di semua negara menetapkan kebijakan suku bunga rendah yang sebenarnya tidak banyak menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan masih berkutat pada inflasi rendah. Sebulan terakhir ini, The Fed walaupun telah menaikkan yield obligasi sebesar 0,5% namun dengan kebijakan terus mencetak dolar AS malah akan berdampak buruk pada penurunan nilai mata uang tersebut dan tentunya menekan kinerja emiten karena beban utang dalam dolar AS yang akan meningkat.
Kembali pada bursa, dapat dikatakan dengan masuknya hot money ke emerging market dalam jumlah yang cukup signifikan dengan nilai tidak kurang mencapai US$ 12 milliar dalam sebulan terakhir yang jelas-jelas melampaui capital inflow pada saat bursa asia mencapai puncaknya yakni pada oktober 2007. Pengalaman menunjukkan, pada saat dana asing mengalir sederas itu pad februari 2006, Indeks MSCI akhirnya malah merosot 8,4% empat bulan kemudian. Dan mencermati pasar saham kita yang terus membumbung tinggi sangat rawan terhadap koreksi yang juga lebih dalam. Semakin cepat tinggi terbangnya akan semakin cepat pula jatuhnya. Hot money ini memang terus menjadi biang keladi apabila nantinya terjadi koreksi terlebih apabila mereka telah menemukan zona yang lebih nyaman untuk berinvestasi apabila ada salah satu negara di eropa ataupun US telah menunjukkan kenaikan inflasi.
Oleh karena itu jangan mudah terpengaruh dengan herding dan ingatlah sifat pada heuristic pada market bahwa sebenarnya kenaikan indeks kita tidak sesuai dengan kondisi sektor riil yang terus cenderung melambat. Pasar sudah sangat tak rasional bila dikaitkan dengan kinerja emiten yang sebagian besar cenderung stabil atau bahkan menurun untuk beberapa sektor tertentu. Hanya sedikit sekali emiten yang melakukan ekspansi namun Indeks rally dengan kencangnya. Hal ini terbilang sangat tidak wajar. Waspadalah terhadap Bluffy Bullish ini karena sebenarnya tekanan bearish masih cukup kuat adanya.


![Four in a Row [Explored] Four in a Row [Explored]](http://static.flickr.com/7018/6782703137_25b3b3b811_t.jpg)